Pages

Senin, 31 Oktober 2011

Konsumerisme IT Picu Meningkatnya Cyber Attack

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Symantec corp mengumumkan hasil temuan state of security survey 2011, yang mengungkapkan upaya-upaya keamanan cyber dalam organisasi/perusahaan dengan berbagai skala dimana tingginya tingkat konsumerisme IT (informasi teknologi) menyebabkan meningkatnya jumlah serangan cyber.
Selama dua tahun berturut turut, divisi IT mengatakan bahwa keamanan merupakan resiko bisnis paling utama yang mereka hadapi, lebih besar dari kejahatan tradisional bencana alam dan terorisme.
Meski begitu, organisasi atau perusahaan pada saat ini sudah lebih baik dalam menjalankan perang melawan beragam ancaman keamanan cyber. Sementara mayoritas responden menderita kerugian akibat dari serangan cyber, semakin banyak responden yang melaporkan adanya penurunan jumlah dan frekuensi serangan di bandingkan tahun 2010.
"konsumerisasi IT, pertumbuhan aplikasi dan perubahan dalam lanskap ancaman memberikan tantangan baru ketika perusahaan meningkatkan upaya keamanan cyber mereka," Kata Raymond Goh Regional Technical Director Systems Engineering Asia South Region Symantec.
Survei yang dilakukan Symantec mengungkapkan sejumlah temuan penting seperti lebih dari dua per tiga (69 persen) perusahaan merasakan adanya serangan dalam 12 bulan terakhir, 15 persen melaporkan frekuensi serangan meningkat dan hampir semua 99 persen perusahaan mengalami kerugian akibat serangan cyber di tahun 2011.
Menurut penilaian para responden, hanya sepertiga (39 persen) yang mengatakan bahwa mereka melakukan tindakan pengamanan rutin yang cukup baik atau sangat baik. Presentase yang sama berlaku dalam hal penanganan serangan atau pelanggaran keamanan dan masalah keamanan inovatif atau canggih sebesar 39 persen.
Menurut Raymond tidak diragukan lagi penyerang cyber itu menggunakan metode yang lebih canggih, berbahaya dan terkonsep dalam mencuri data dan menciptakan malapetaka sehingga organisasi/perusahaan saat ini lebih beresiko mengalami kerugian dibandingkan sebelumnya dan harus terus mengadopsi inovasi dan best practice keamanan yang diciptakan di Industri agar tetap terlindungi. "Di Indonesia infrastrukturnya cukup baik dan perilaku pengguna yang sadar akan keamanan internal itu yang kurang," katanya
Untuk mengatasi serangan cyber yang merugikan terutama dalam urusan bisnis pihak Symantec memberikan beberapa rekomendasi menyikapi hal itu seperti perusahaan harus membangun dan menerapkan kebijakan IT, melindungi informasi dengan mengklasifikasi data informasi, memvalidasi dan melindungi identitas personal, mengelola sistem,dan melindungi infrastruktur IT yang ada.
Survei dilakukan di 36 negara pada 3300 perusahaan dan 100 perusahaan diantaranya berasal dari Indonesia, dalam periode bulan april-mei 2011 dan dilakukan dengan metode penelitian terapan.



Sumber: Yahoo!

Kesadaran Penggunaan Komputasi Awan Meningkat

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Saat ini terjadi peningkatan kesadaran di kalangan konsumen dan perusahaan untuk mengakses sumber daya teknologi informasi (TI) secara ekstensif melalui sebuah model utilitas atau lebih dikenal komputasi awan (Cloud Computing/Cloud).
Komputasi awan sangat dibutuhkan, terutama pada industri perbankan karena terkait dengan keamanan industri itu sendiri.
Di Indonesia, sektor  BFSI (Banking, Financial Services & Insurance), Manufaktur, dan Telco/IT berkontribusi sebesar 65 persen dari pasar data center di industri.
"Namun masih banyak perusahaan yang menunjukkan sikap skeptis terhadap penerapan sistem Cloud karena adanya kekhawatiran atas keamanan (Security) dan privasi," kata penggagas Indonesia Cloud Forum, Teguh Prasetya di Jakarta, Kamis (27/10/2011).
Pasar komputasi awan di Indonesia dipercaya tengah berada dalam kurva pertumbuhan pesat dan semakin banyak perusahaan yang akan menjadikan cloud sebagai prioritas dalam tahun-tahun mendatang. Hal itu ditunjukkan adanya peningkatan permintaan dari perusahaan-perusahaan lokal yang mulai memahami lebih banyak model aplikasi dan adanya kesempatan untuk mengurangi biaya dan mendorong terciptanya efektivitas.
Selain perbankan dan telekomunikasi, layanan Cloud pada segmen Infrastructure as a Service (IaaS) diyakini akan  tumbuh 53.4 persen selama periode 2010–2014 karena industri semakin sadar manfaat efisiensi biaya yang ditawarkan jasa ini.


Sumber: Yahoo!

iPhone Hadirkan Sistem Operasi Terbaru

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Melalui system operasi iOS5 keluaran Apple, pengguna iPhone kini dapat menikmati berbagai fitur menarik.
Konsumen iPhone 3GS maupun iPhone4 kini dapat melakukan upgrade system operasi ponselnya ke OS teranyar Apple iOS5. Dengan melakukan upgrade ini, semua fasilitas terbaru yang dikeluarkan Apple untuk iPhone dapat dinikmati dari kedua ponsel tersebut. “Produk iPhone 3GS atau iPhone4 akan menjadi lebih eksklusif,” ujar Lisa Widyawati, Head of Sales and Marketing PT Sinar Eka Selaras (SES) distributor resmi produk-produk Apple di Indonesia.
Menurut Lisa, konsumen yang membeli iPhone3GS dan melakukan upgrade OS secara gratis sudah dapat menikmati kecanggihan terbaru teknologi Apple. Ini yang membuat produk-produk iPhone menjadi menarik. Salah satu kelebihan iOS5 adalah tersedianya fitur iMassage.
“Ini adalah fitur terbaru keluaran Apple. Dengan fitur ini sesama pengguna iPhone dapat melakukan chatting, kirim foto, lagu, gambar atau video. Bedanya tidak perlu menggunakan PIN. Sebab iPhone secara otomatis akan mendeteksi nomor telepon yang menggunakan produk iPhone juga,” tutur Lisa.
Selain iMassage, fitur baru yang ditawarkan iOS5 adalah Notification. Ini adalah fitur notifikasi baru yang dapat diakses cukup dengan menggeserkan pada layar. Hadirnya fitur ini menghilangkan menu pop-up. Kita dapat melihat notifikasi pesan, panggilan tak terjawab, update aplikasi, ticker saham, kalender dan cuaca. “Saat kita membuka iPhone, semua aktifitas akan muncul notifikasinya,” ujar Lisa.
Sedangkan aplikasi Mail pada iOS 5 memiliki format rich text sehingga pengguna dapat mengatur tampilan huruf yang tampil pada email. Selain itu dengan aplikasi ini akan memudahkan dalam melakukan penulisan email, menandai pesan dan memasukan alamat kontak.
Pada fitur kamera, iOS5 memberikan tampilan layar dengan grid sehingga dapat mengambil gambar dengan komposisi lebih sempurna. Selain itu, hanya dengan menggeser jari pada layar kamera, pengguna dapat langsung masuk ke menu galeri. “Pengambilan gambar dengan iPhone akan semakin asyik,” ujar Lisa.
Perubahan yang paling menonjol, iOS 5 membebaskan pengguna dari perangkat lain, sebab semuanya dapat dilakukan dengan Over-The-Air. Tak perlu lagi komputer untuk melakukan sync, backup, dan restore. Cukup menggunakan fitur iCloud. iClouds juga memberikan email gratis dengan domain @me.com yang berukuran 5GB.
Untuk menjual produknya, PT SES bekerjasama dengan XL Axiata. Banyak paket yang ditawarkan dengan kerjasama ini. Untuk setiap pembelian iPhone 3Gs seharga Rp3,99 juta, akan mendapatkan kartu perdana XL dengan paket data unlimited selama 3 bulan. Selain itu, konsumen juga diberikan silicon case seharga Rp300 ribu.
Sementara itu untuk pembelian iPhone4 seharga Rp 6,99 juta selain mendapatkan kartu perdana XL, paket data unlimited yang didapatkan mencapai 12 bulan. “Kami juga memberikan creen protector.”


Sumber: Yahoo!

Pemerintah Siapkan Regulasi Komputasi Awan

TRIBUNNEWS.COM  JAKARTA -- Pemerintah sedang mempersiapkan regulasi yang mengatur mengenai implementasi cloud computing atau komputasi awan. Aturan tersebut bakal menjadi pengaman bagi berlangsungnya penerapan teknologi tersebut.
Kepala Sub Teknologi dan Infrastruktur Ditjen Aptika Kominfo, Nooriza, mengatakan, pemerintah tengah menyiapkan aturan melalui Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Penyelenggaraan Informasi dan Transaksi Elektronik (PITE) tentang isu keamanan dan privasi di cloud computing.
"Ini peluang usaha nasional. Apapun layanan yang ditempatkan di Indonesia akan mendorong tumbuhnya industri layanan yang dimaksud, begitu juga dengan cloud computing. Di dalam RPP PITE menyebutkan bahwa Data Center perusahaan layanan transaksi elektronik di Indonesia harus berada di dalam wilayah teritori Indonesia. Hal ini akan mendukung peluang bisnis cloud computing di Indonesia," kata Nooriza di Jakarta, pekan lalu.
Komputasi Awan merupakan sumber daya Teknologi Informasi (TI) secara ekstensif melalui sebuah model utilitas, teknologi ini menjadi alternatif yang sangat potensial untuk digunakan dalam sistem TI pada industri di seluruh dunia.
Dijelaskannya, kebijakan ini diterbitkan demi keamanan data nasional, data kepemerintahan, dan transaksi antarpemerintah selaku sektor publik dengan masyarakat. "Agar data tersebut juga tidak disalahgunakan oleh pihak lain yang berada di luar dan dalam teritori Indonesia,” tegasnya.
Direktur Strategic Business Development Intel Indonesia Harry K Nugraha menyarankan adanya standar dan kriteria spesifik dari penyelenggaraan layanan cloud computing di Indonesia. “Sebaiknya para pemangku kepentingan di cloud itu yang mengusulkan ke pemerintah hal-hal yang harus diregulasi atau tidak, karena mereka yang tahu kebutuhannya,” ujar Harry.



 Sumber: Yahoo!

Telkomsel Sediakan Layanan Roamin Internasional di Kapal Pesiar Internasional

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL-- PT Telkomsel bekerja sama dengan operator On-Waves menyediakan layanan roaming internasional bagi sekitar 30 ribu warga Indonesia yang bekerja di kapal pesiar, kapal komersial maupun kapal pengeboran lepas pantai.
Peresmian kerja sama roaming dilakukan di atas kapal pesiar Louis Cristal Cruise antara Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno dan CEO On-Waves Constantin Simeonidis, di Pelabuhan Laut Istanbul, Karekoy, Turki, Ahad.
Pada kesempatan itu kedua pihak juga menyaksikan uji panggilan ("test call") antara seorang pelaut Indonesia yang menghubungi keluarganya di tanah air.
On-Waves adalah anak perusahaan Siminn, operator telekomunikasi berbasis di Islandia yang dikhususkan mengelola layanan komunikasi maritim (maritim mobile communication) untuk teknologi berbasis GSM dan CDMA.
Saat ini On-Waves mengoperasikan setidaknya 500 kapal, seperti kapal pesiar, ferry, kapal pribadi, kapal komersial, kapal penangkap ikan, kapal angkatan laut, termasuk kapal tanker.
"Dengan kerja sama ini para pelanggan Telkomsel yang bertugas di tengah samudera tidak perlu khawatir lagi karena komunikasi dapat dilakukan setiap saat menghubungi saudara, mitra kerja, sanak keluarga di Indonesia dengan tarif yang lebih murah," kata Sarwoto.
Khusus di kapal Louis Cristal, Telkomsel memberikan gratis kartu perdana (sim card) dengan paket pulsa kepada sebanyak 30 orang awak kapal berwarga negara Indonesia. Selama ini roaming akses komunikasi maritim didasarkan pada jumlah operator yang jangkauannya terbatas hanya di sejumlah kapal pesiar.
Dengan menggunakan kartu Telkomsel, baik kartu Halo, Kartu AS maupun Simpati, pelanggan dapat melakukan panggilan ke mana saja baik ke Indonesia maupun negara lain dengan 1 tarif yaitu Rp9.000 per menit, dan sebesar Rp2.000 untuk setiap SMS.
Sedangkan untuk menerima panggilan, pelanggan hanya dikenakan biaya Rp11.000 per menit. Apabila pelanggan menggunakan layanan data dikenakan tarif Rp165 per 10 kilobyte. "Tarif ini berlaku untuk semua jenis kartu Telkomsel dan dipastikan sudah termasuk pajak," ujar Sarwoto.
Sementara itu CEO On-Waves Constantin Simeonidis mengatakan pemilihan kerja sama dengan Telkomsel karena merupakan operator terbesar di Indonesia. "Indonesia memiliki penduduk yang besar, dan banyak yang bekerja sebagai pelaut. Layanan ini akan menjadi sangat penting bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan komunikasi selama bekerja di luar negaranya," kata Constantin.
Bila dibandingkan,  tarif panggilan jika menggunakan kartu seluler milik operator lokal Turki berkisar 5 Euro untuk setiap 3,5 menit percakapan atau setara dengan sekitar Rp62.500. Sementara tarif SMS setara dengan Rp6.000 per SMS.


Sumber: Yahoo!

Biografi Steve Wozniak


Biografi Steve Gary "Woz" Wozniak
Lahir 11 Agustus 1950 (umur 61)
San Jose, California, Amerika Serikat
Pekerjaan Ilmuwan komputer
Rekayasa eletrikal
Pasangan Alice Robertson (1976-1980)
Candice Clark (1981-1987)
Suzanne Mulkern (1990-2004)
Janet Hill (2008-sekarang)
Anak Three




Stephen Wozniak (Bahasa Polandia: Woźniak, nama panggilan (The) Woz atau Wizard of Woz) (lahir di San Jose, California, Amerika Serikat, 11 Agustus 1950; umur 61 tahun) adalah pendiri Apple Computer (dengan Steve Jobs). Ia dianggap sebagai pelopor dari masuknya komputer ke dalam kehidupan rumah pribadi. Walaupun kontribusinya hanya dalam bentuk kumpulan ide-ide jitu yang secara tidak sengaja bersamaan dengan siapnya teknologi untuk pembuatan komputer massal, kecerdasan dan kreatifitasnya yang tak terbatas membuat dia menjadi orang yang tepat untuk diakui sebagai pemrakarsa revolusi komputer pribadi. Wozniak menciptakan Apple II, komputer pribadi terakhir yang benar-benar didisain oleh satu orang saja.
Pada bulan Januari 2007, ia meluncurkan buku iWoz (ISBN: 0393061444) yang berisi perjalanan hidup dan kariernya.



Sumber: Wikipedia

Vladimir Levin

Vladimir Levin

From Wikipedia, the free encyclopedia
Левин, Владимир Леонидович is a Russian-born Jewish individual famed for his involvement in the attempt to fraudulently transfer US$10.7 million via Citibank's computers.

The commonly known story

At the time, the mass media claimed he was a mathematician and had a degree in biochemistry from Saint Petersburg State Institute of Technology.
According to the coverage, in 1994 Levin accessed the accounts of several large corporate customers of Citibank via their dial-up wire transfer service (Financial Institutions Citibank Cash Manager) and transferred funds to accounts set up by accomplices in Finland, the United States, the Netherlands, Germany and Israel.
Three of his accomplices were arrested attempting to withdraw funds in Tel Aviv, Rotterdam and San Francisco. Interrogation of his accomplices directed investigations to Levin, then working as a computer programmer for St. Petersburg based computer company AO Saturn. However, at the time, there were no extradition treaties between the US and Russia covering these crimes.
In March 1995 Levin was apprehended at London's Stansted Airport by Scotland Yard officers when making an interconnecting flight from Moscow. Levin's lawyers fought against extradition to the US, but their appeal was rejected by the House of Lords in June 1997.
Levin was delivered into U.S. custody in September 1997, and tried in the United States District Court for the Southern District of New York. In his plea agreement he admitted to only one count of conspiracy to defraud and to stealing US$3.7 million. In February 1998 he was convicted and sentenced to three years in jail, and ordered to make restitution of US$240,015. Citibank claimed that all but US$400,000 of the stolen US$10.7 million had been recovered.
After the compromise of their system, Citibank updated their systems to use Dynamic Encryption Card, a physical authentication token. However, it was not revealed how Levin had gained access to the relevant account access details. Following his arrest in 1995, anonymous members of hacking groups based in St. Petersburg claimed that Levin did not have the technical abilities to break into Citibank's systems, that they had cultivated access to systems deep within the bank's network, and that these access details had been sold to Levin for $100.

The revelation a decade later

In 2005 an alleged member of the former St. Petersburg hacker group, claiming to be one of the original Citibank penetrators, published under the name ArkanoiD a memorandum on popular Provider.net.ru website dedicated to telecom market.[1] According to him, Levin was not actually a scientist (mathematician, biologist or the like) but a kind of ordinary system administrator who managed to get hands on the ready data about how to penetrate in Citibank machines and then exploit them.
ArkanoiD emphasized all the communications were carried over X.25 network and the Internet was not involved. ArkanoiD's group in 1994 found out Citibank systems were unprotected and it spent several weeks examining the structure of the bank's USA-based networks remotely. Members of the group played around with systems' tools (e.g. were installing and running games) and were unnoticed by the bank's staff. Penetrators did not plan to conduct a robbery for their personal safety and stopped their activities at some time. One of them later handed over the crucial access data to Levin (reportedly for the stated $100).



Sumber: Wikipedia

Kevin Poulsen

Kevin Poulsen

Kevin Lee Poulsen (far right), pictured circa 2001 with Adrian Lamo (far left) and Kevin Mitnick (center)
Born 1965 (age 45–46)
Pasadena, California
Occupation Senior editor at Wired News
Other names Dark Dante




Biography

Before segueing into journalism, he had a controversial career in the 1980s as a hacker whose handle was Dark Dante. He worked for SRI International by day, and hacked at night. During this time, Poulsen taught himself lock picking, and engaged in a brash spree of high-tech stunts that would ultimately make him one of America's best-known cyber-criminals. Among other things, Poulsen reactivated old Yellow Page escort telephone numbers for an acquaintance that then ran a virtual escort agency.
His best-appreciated hack was a takeover of all of the telephone lines for Los Angeles radio station KIIS-FM, guaranteeing that he would be the 102nd caller and win the prize of a Porsche 944 S2.[2][3]
When the FBI started pursuing Poulsen, he went underground as a fugitive. When he was featured on NBC's Unsolved Mysteries, the show's 1-800 telephone lines mysteriously crashed.[2][4] He was finally arrested in April 1991. In June 1994, Poulsen pleaded guilty to seven counts of mail, wire and computer fraud, money laundering, and obstruction of justice, and was sentenced to 51 months in prison and ordered to pay $56,000 in restitution. At the time, it was the longest sentence ever given for cracking. He also pleaded guilty to breaking into computers and obtaining information on undercover businesses run by the FBI.
Poulsen enjoyed brief celebrity in the tech world upon his release from federal prison, and was the subject of the book Watchman: The Twisted Life and Crimes of Serial Hacker Kevin Poulsen, a work which Poulsen himself has decried.
Poulsen has reinvented himself as a journalist since his release from prison, and sought to distance himself from his criminal past. Poulsen served in a number of journalistic capacities at California-based security research firm SecurityFocus, where he began writing security and hacking news in early 2000. Despite a late arrival to a market saturated with technology media, SecurityFocus News became a well-known name in the tech news world during Poulsen's tenure with the company and was acquired by Symantec. His original investigative reporting was frequently picked up by the mainstream press. Poulsen left SecurityFocus in 2005 to freelance and pursue independent writing projects. He became a senior editor for Wired News in June 2005, which hosts his recent (as of 2006) blog, 27BStroke6, which has since been renamed Threat Level.

MySpace investigation

In October 2006, Poulsen released information detailing his successful search for registered sex offenders using MySpace to solicit sex from children. His work identified 744 registered persons with MySpace profiles, and led to the arrest of one, Andrew Lubrano.[5]

Poulsen's Law

  • Kevin Poulsen said Poulsen's Law is: Information is secure when it costs more to get than its worth.

Role in Bradley Manning case

Kevin Poulsen broke the initial story of Bradley Manning's arrest and published the logs of Bradley Manning's incriminating chats with Adrian Lamo. [6]


Sumber: Wikipedia

Robert Tappan Morris


Robert Tappan Morris

Robert Morris
Born November 8, 1965 (age 45)
Alias(es) RTM[1]
Motive "to demonstrate the inadequacies of current security measures on computer networks by exploiting the security defects that Morris had discovered."[2]
Conviction(s) United States Code: Title 18 (18 U.S.C. § 1030, the Computer Fraud and Abuse Act, March 7, 1991.[2]
Penalty three years of probation, 400 hours of community service, a fine of $10,050, and the costs of his supervision[2]
Status fulfilled
Occupation Professor, Massachusetts Institute of Technology,
Partner, Y Combinator[3]
Parents Robert Morris


Robert Tappan Morris, (born November 8, 1965), is an American computer scientist, best known for creating the Morris Worm in 1988, considered the first computer worm on the Internet[4] - and subsequently becoming the first person convicted under the Computer Fraud and Abuse Act.[2][5]
He went on to co-found the online store Viaweb, one of the first web-based applications, and later the funding firm Y Combinator - both with Paul Graham. He is a tenured professor in the department of Electrical Engineering and Computer Science[6]at the Massachusetts Institute of Technology.
His father was the late Robert Morris, a coauthor of UNIX and the former chief scientist at the National Computer Security Center, a division of the National Security Agency (NSA).



The worm

Morris created the worm while he was a graduate student at Cornell University. The original intent, according to him, was to gauge the size of the Internet. He released the worm from MIT to conceal the fact that it actually originated from Cornell. The worm exploited several vulnerabilities to gain entry to targeted systems, including:
  • a hole in the debug mode of the Unix sendmail program,
  • a buffer overrun hole in the fingerd network service,
  • the transitive trust enabled by people setting up rexec/rsh network logins without password requirements.
However, the worm had a design flaw. The worm was programmed to check each computer it found to determine if the infection was already present. However, Morris believed that some administrators might try to defeat his worm by instructing the computer to report a false positive. To compensate for this possibility, Morris directed the worm to copy itself anyway, 14% of the time, no matter the response to the infection-status interrogation. This level of replication created system loads that not only brought it to the attention of system administrators, but also disrupted the target computers. It was guessed that the cost in "potential loss in productivity" caused by the worm and efforts to remove it ranged at each system from $200 to more than $53,000.

Conviction

Robert Morris was convicted of violating United States Code: Title 18 (18 U.S.C. § 1030), the Computer Fraud and Abuse Act.[2] and in December, 1990, was sentenced to three years of probation, 400 hours of community service, a fine of $10,050, and the costs of his supervision. His appeal was rejected the following March.[4]

Timeline

Research

His principal research interest is computer network architectures which includes work on distributed hash tables such as Chord and wireless mesh networks such as Roofnet.

Personal

Morris is a longtime friend of Paul Graham. Graham dedicated his book ANSI Common Lisp to him, and named the programming language that generates the online stores' web pages RTML in his honor. Graham also lists Morris as one of his personal heroes saying "he's never wrong".

Mark Abene

Mark Abene

in July 2008.
Born 1972 (age 38–39)
New York City, US
Other names Phiber Optik
Known for Hacking


Mark Abene (born 1972), better known by his pseudonym Phiber Optik, is a computer security hacker from New York City. Phiber Optik was once a member of the hacker groups Legion of Doom and Masters of Deception.
Phiber Optik was a high-profile hacker in the early 1990s, appearing in The New York Times, Harper's, Esquire, in debates and on television. He is an important figure in the 1995 non-fiction book Masters of Deception — The Gang that Ruled Cyberspace.

Early life

Mark Abene's first contact with computers was at around 9 years of age at a local department store, where he would often pass the time while his parents shopped. His first computer was a TRS-80 MC-10 with 4K of RAM, a 32-column screen, no lower case, and a cassette tape recorder to load and save programs. As was customary at the time, the computer connected to a television set for use as a monitor. After receiving the gifts of a RAM upgrade (to 20K) and a 300 baud modem from his parents, he used his computer to access CompuServe and shortly after discovered the world of dialup BBSes via people he met on CompuServe's "CB simulator", the first nation-wide online chat. On some of these BBSes, Abene discovered dialups and guest accounts to DEC minicomputers running the RSTS/E and TOPS-10 operating systems as part of the BOCES educational program in Long Island, New York. Accessing those DEC minicomputers he realized there was a programming environment that was much more powerful than that of his own home computer, and so he began taking books out of the library in order to learn the programming languages that were now available to him. This and the ability to remotely save and load back programs that would still be there the next time he logged in had a profound effect on Abene, who came to view his rather simple computer as a window into a much larger world.[2]
Having learned about programming and fundamental security concepts during those early years, Abene further honed his skill in understanding the intricacies of the nation-wide telephone network.
In the mid-1980s he was first introduced to members of the Legion of Doom (LOD), a loosely knit group of highly respected teenage hackers who shared Abene's uncompromising desire to understand technology.[citation needed] Their main focus was to explore telecommunications systems, minicomputer and mainframe operating systems and large-scale packet data networks. The eventual decline of the LOD toward the late 1980s largely due to fragmentation and dissention within the group, coupled with the legal prosecution of a handful of its members, caused Abene to increasingly align himself with a local group of up-and-coming hackers, who came to be known as the Masters of Deception (MOD).

Legal tribulations

On January 24, 1990, Abene and other MOD members had their homes searched and property seized by the U.S. Secret Service largely based on government suspicions of having caused AT&T’s network crash just over a week earlier on January 15 (Abene was personally accused by the Secret Service of having done as much, during the search and seizure). Some weeks later, AT&T themselves admitted that the crash was the result of a flawed software update to the switching systems on their long distance network, thus, human error on their part.[3] In February 1991, Abene was arrested and charged with computer tampering and computer trespass in the first degree, New York state offenses. Laws at the time were considered a “gray area” concerning information security. Abene, who was a minor at the time, pleaded "not guilty" to the first two offenses and ultimately accepted a plea agreement to a lesser misdemeanor charge, and was sentenced to 35 hours of community service.[4]
Abene and four other members of the Masters of Deception were also arrested in December 1991 and indicted by a Manhattan federal grand jury on July 8, 1992 on an 11-count charge. The indictment relied heavily on evidence collected by court-approved wire tapping of telephone conversations between MOD members. According to U.S. Attorney Otto Obermaier,[4] it was the "first investigative use of court-authorized wiretaps to obtain conversations and data transmissions of computer hackers" in the United States.
According to a July 9, 1992 newsletter from the Electronic Frontier Foundation, the defendants faced a maximum term of 50 years in prison and fines of $2.5 million if found guilty on all counts. Despite the fact that Abene was a minor at the time the crimes were allegedly committed, was only involved in a small fraction of the sub-charges, and often in a passive way, a plea arrangement resulted in by far the harshest sentence: 12 months imprisonment, three years probation and 600 hours of community service.
After serving the one-year sentence at the Federal Prison "Camp" in Schuylkill, Pennsylvania, Abene was released in November 1994. In January 1995, a huge celebration called "Phiberphest '95" was held in his honor at Manhattan's Irving Plaza ballroom/nightclub. In Time, Joshua Quittner called him "the first underground hero of the Information Age, the Robin Hood of cyberspace."[5]

Social protests

Many people inside and outside of the hacker world felt that Abene was made an example of, and was not judged according to earlier court standards.[citation needed] Abene had built up a significant reputation in the hacker sub-culture, for example regularly appearing on the radio show Off the Hook, hosted by Eric Corley (a.k.a. Emmanuel Goldstein), debating and defending the morals and motivations of hackers in public forums and in interviews, and lecturing on the history of telecommunications technology at the night courses of several New York City universities. At the time of the indictment he was working at MindVox, an early BBS/ISP founded by two New York LOD members, and subsequently at ECHO,[disambiguation needed ] also a multi-user BBS and early ISP.
ECHO users, ECHO management themselves and hackers around the nation expected Abene to get off with probation or at most a few months of jail time. Co-defendants and previous offenders charged with "hacking" offenses had received rather lenient punishments, and given his new-found enthusiasm for using his knowledge to constructive ends, the general feeling was optimistic prior to sentencing.
A statement made by U.S. Attorney Otto Obermeier in conjunction with the indication, "The message that ought to be delivered with this indictment is that such conduct will not be tolerated, irrespective of the age of the particular accused or their ostensible purpose,"[6] was interpreted by Abene's supporters to mean that MOD was made an example of, to show that the authorities could handle the perceived "hacker threat". During sentencing, Judge Stanton said that "the defendant stands as a symbol here today," and that "hacking crimes constitute a real threat to the expanding information highway", reinforcing the view that a relatively harmless "teacher" was judged as a symbol for all hackers.[7]

Professional life

Abene has spoken on the subject of security in many publications such as the New York Times, the Washington Post, the Wall Street Journal, and Time Magazine. He is a speaker at security industry conferences and visits universities to speak to students concerning information security.[8]
After some years as a security consultant, he joined former Legion of Doom member Dave Buchwald and a third colleague, Andrew Brown, to create the security consulting firm Crossbar Security. As a result of the "dot com" bust Crossbar ultimately went defunct in 2001. Living in New York City today, Abene is a independent consultant for various organizations.
Abene made his acting début as "The Inside Man" in the fiction film Urchin,[9] completed in 2006 and released in the US in February 2007, in which other hacker notables such as Dave Buchwald and Emmanuel Goldstein can also be seen.

John Draper

John T. Draper

Captain Crunch, Crunch and Crunchman or Mr. Crunchtastic
Born 1943


John Thomas Draper (born 1943), also known as Captain Crunch, Crunch or Crunchman (after Cap'n Crunch, the mascot of a breakfast cereal), is an American computer programmer and former phone phreak. He is a legendary figure within the computer programming world.



Background

Draper is the son of a U.S. Air Force engineer; he described his father as distant in an interview published on the front page of the Jan 13–14, 2007 issue of The Wall Street Journal. Draper himself entered the Air Force in 1964, and while stationed in Alaska helped his fellow servicemen make free phone calls home by devising access to a local telephone switchboard. After Alaska, he was stationed at Charleston Air Force Base in Maine. In 1967, he created WKOS [W-"chaos"], a pirate station in nearby Dover-Foxcroft, but had to shut it down when a legitimate radio station, WDME, objected. He was honorably discharged from the Air Force in 1968 and did military-related work for several employers in the San Francisco Bay Area. He adopted the counterculture of the times and operated a pirate radio station out of a Volkswagen van.
Cap'n Crunch Bosun whistle CA 1971.

Phreaking

While Draper was driving around his Volkswagen Microbus to test a pirate radio transmitter, he broadcast a telephone number to listeners as feedback to gauge his station’s reception. A callback from a “Denny” (identified in the Discovery Channel documentary about Hacking as Denny Teresi[1]) resulted in a meeting and caused him to blunder into the world of the phone phreaks. They wanted him to build a multifrequency tone generator (the blue box) to gain easier entry into the AT&T system, which was controlled by tones. Then they would not have to use an organ and cassette recordings of tones to get free calls. At least one of the blind boys had perfect pitch and had identified the exact frequencies. They informed him that a toy whistle that was, at the time, packaged in boxes of Cap’n Crunch cereal could emit a tone at precisely 2600 hertz—the same frequency that was used by AT&T long lines to indicate that a trunk line was ready and available to route a new call.[2] This would effectively disconnect one end of the trunk, allowing the still connected side to enter an operator mode. Experimenting with this whistle inspired Draper to build blue boxes: electronic devices capable of reproducing other tones used by the phone company.
I don’t do that. I don’t do that anymore at all. And if I do it, I do it for one reason and one reason only. I’m learning about a system. The phone company is a System. A computer is a System, do you understand? If I do what I do, it is only to explore a system. Computers, systems, that’s my bag. The phone company is nothing but a computer.
Secrets of the Little Blue Box, Ron Rosenbaum, Esquire Magazine (October 1971)
The class of vulnerabilities Draper and others discovered was limited to call-routing switches that employed in-band signaling, whereas newer equipment relies almost exclusively on out-of-band signaling, the use of separate circuits to transmit voice and signals. Though they no longer serve a practical use, the Cap’n Crunch whistles did become valued collector’s items. Some hackers sometimes go by the handle “Captain Crunch” even today; 2600: The Hacker Quarterly is named after this whistle frequency.
The expense of sustaining the unbilled phone calls, the redesign of the line protocols, and the accelerated equipment replacement due to the blue box is difficult to calculate, or even to separate from something as complex and dynamic as the telephone long-distance network.
The 1971 Esquire article which told the world about phone phreaking got Draper in hot water. Draper was arrested on toll fraud charges in 1972 and sentenced to five years’ probation. The article also brought him to the attention of Steve Wozniak, who located Draper while working as an engineer at KKUP,[3] a Cupertino public radio station located near the future Apple campus. In the early and mid 1970s he taught his phone phreaking skills to Steve Jobs and Steve Wozniak, who later founded Apple Computer. He was briefly employed at Apple, and created a telephone interface board for the Apple II personal computer, which he named "The Charlie Board".[2] Wozniak has said the reason the board was never marketed was that Wozniak was the only one in the company who liked Draper,[4] and partially due to Draper's arrest and conviction for wire fraud. While at Apple, Draper also wrote a cross-assembler used by Steve Wozniak while developing Apple I and Apple II.[5]

Software developer

Draper wrote EasyWriter, the first word processor for the Apple II, in 1978. According to The Wall Street Journal, he hand-wrote the code while serving nights in the Alameda County Jail, then entered the code later into a computer.
Draper's personal website furnishes a more detailed version[6] of the coding of EasyWriter. Draper was in prison, in California, at the time, but under a 'work furlough' program. This meant that while he had to spend every night in prison, he spent each day working a regular job outside prison. This job was at Receiving Studios, a small band practice studio, and while there he had access to a computer, where he coded EasyWriter. He did take copies of the code 'home' to prison overnight to work on it.
Draper later ported EasyWriter to the IBM PC, beating Bill Gates on the bid for the IBM contract. Draper's company, Capn' Software, posted less than $1 million revenue over six years and he subsequently sued his software's distributor, Bill Baker, over an unauthorized version of EasyWriter that Baker released without Draper's permission – they settled out of court.
Draper's OCD-like behavior and incredibly creative mind has at times led to difficulties with potential clients who find him too encompassing of the original California software community ethos – which he sticks to until this very day. Shortly after Apple released Macintosh he taught an online course in Mac programming. Currently he writes computer security software, is a senior developer of KanTalk!, VoIP client built around singer and actress Lola Blanc (born Kandice Melonakos),[7] and hosts an internet TV show, Crunch TV.
From 2005 to 2010, Draper was the Chief Technical Officer (CTO) for media delivery company En2go, that delivers music, video and other digital content to desktops.[5]
Draper's software development history includes:
  • The Motorola 6800 Cross Assembler for CallComputer (1974)
  • The Charlie Board (1977)
  • Forth 1.7 for the Apple II (1978)
  • EasyWriter© (1980)
  • Advanced 3-D Graphic Design Systems for Autodesk(1986–89)
  • Website Development (1994 to present)
  • The Crunchbox Firewall (CTO of ShopIp 1999–2004)
  • VOIP application for OnInstant (2005)
  • The Channel Manager for the Flyxo Media System (CTO of En2Go 2005–10)

Legends

One oft-repeated story featuring Captain Crunch goes as follows: Draper picked up a public phone, then proceeded to “phreak” his call around the world. At no charge, he routed a call through different phone switches in countries such as Japan, Russia and England. Once he had set the call to go through dozens of countries, he dialed the number of the public phone next to him. A few minutes later, the phone next to him rang. Draper spoke into the first phone, and, after quite a few seconds, he heard his own voice very faintly on the other phone. He sometimes repeated this stunt at parties. Draper also claimed that he and a friend once placed a direct call to the White House during the Nixon administration, and after giving the operator President Nixon's secret code name of "Olympus", and asking to speak to the president about a national emergency, they were connected with someone who sounded like Richard Nixon; Draper’s friend told the man about a toilet paper shortage in Los Angeles, at which point the person on the other end of the line angrily asked them how they'd managed to get connected to him.[8] Draper was also a member of the Homebrew Computer Club.[2]

In popular culture

  • John Draper appears as himself in the unreleased documentary Hackers Wanted.
John Draper's story has also inspired several mentions in popular culture.
  • Elements of the movie Sneakers recall Draper and Joybubbles; the character Erwin "Whistler" Emory portrayed by David Strathairn, as well as Cosmo's experience of offering phreaking services to criminals while in prison, were based on them.[9]
  • John Draper is specifically mentioned as "Captain Crunch" in one scene in Cowboy Bebop: The Movie, in which a hacker mentions that "Cap'n Crunch broke into the national phone system with a plastic whistle."
  • Captain Crunch is being searched for by Rockford during a murder investigation on the TV show The Rockford Files, season 5, episode 5, "Kill the Messenger".

Kisah Hidup Linus Torvalds

Lahir 28 Desember 1969 (umur 41)
Helsinki, Finlandia
Tempat tinggal Portland, Oregon
Kebangsaan Finnish
Pekerjaan Rekayasawan Perangkat Lunak
Tempat kerja Linux Foundation
Dikenal karena Linux kernel, Git
Pasangan Tove Torvalds
Orang tua Nils Torvalds (ayah)
Anna Torvalds (ibu)[1]
Kerabat Ole Torvalds (kakek)


Linus Benedict Torvalds (lahir di Helsinki, Finlandia, 28 Desember 1969; umur 41 tahun) adalah rekayasawan perangkat lunak Finlandia yang dikenal sebagai perintis pengembangan Kernel Linux. Ia sekarang bertindak sebagai koordinator proyek tersebut.
Linux terinsipirasi oleh Minix (sistem operasi yang dikembangkan oleh Andrew S. Tanenbaum) untuk mengembangkan sistem operasi mirip-Unix (Unix-like) yang dapat dijalankan pada sebuah PC. Linux sekarang dapat dijalankan pada berbagai arsitektur lain.
Ketika Linus Torvalds, seorang mahasiswa Finlandia pendiam membagi-bagikan kode sumber (source code) kernel Linux seukuran disket via internet di tahun 1991, ia sama sekali tidak menduga bahwa apa yang dimulainya melahirkan sebuah bisnis bernilai milyaran dolar di kemudian hari.
Ia bahkan tidak menduga Linux kemudian menjadi sistem operasi paling menjanjikan, yang bisa dibenamkan ke dalam server, komputer desktop, tablet PC, PDA, handphone, GPS, robot, mobil hingga pesawat ulang alik buatan NASA.
Tidak hanya itu, banyak maniak Linux (Linuxer) yang membeli perangkat buatan Apple dan mengganti sistem operasinya dengan Linux. Bagi saya itu sedikit gila, mengingat menghapus sistem operasi Mac & iPod berarti membuang duit dan menggantinya sistem operasinya cukup sulit dibanding desktop berbasis Windows. Saat ini 20% pangsa pasar desktop di seluruh dunia menggunakan Linux jauh di atas Machintosh dan terus mengejar desktop Windows. Dan 12,7% server di seluruh dunia menggunakan Linux, jauh di atas UNIX, BSD, Solaris, dan terus meningkat menggerus pangsa pasar server Microsoft.
Saat ini Linus meninggalkan posisi menjanjikan di perusahaan semi konduktor Transmeta dan tinggal bersama istri dan 3 anaknya di sebuah bukit di desa di Portland, Oregon, USA, berdekatan dengan markas Open Source Development Labs. Organisasi nirlaba ini diawaki oleh 20-an programmer yang punya gairah hampir sama dengan Linus. Mereka terus mengembangkan kernel Linux yang kini berukuran 290-an MegaBytes atau melebihi 9 milyar baris kode. Linux beserta timnya menerima masukan baris-baris kode dari seluruh penjuru dunia, menyortir, menetapkan skala prioritas dan memasukkan gagasan paling brilian ke dalam kernel. LSD sendiri disokong oleh puluhan raksasa IT seperti IBM, HP, Dell dan Sun, baik dari sisi materi maupun sumber daya manusia.
Linus bukan orang pertama yang membagi-bagikan source code karena pola ini adalah hal yang biasa di masa awal tumbuhnya industri komputer. Tapi Linus sukses menetapkan standar yang memaksa banyak pengembang ikut membebaskan kode sumber program mereka, mulai dari BSD, Solaris, Suse, Java hingga Adobe.
Meski hanya bergaji ratusan ribu dolar pertahun, Linus telah menciptakan banyak multimilyuner dalam industri komputer mulai dari RedHat, Suse, Debian, Mandriva, Ubuntu dan banyak developer software open source lainnya. Hampir tak ada yang berubah dari Linus. Ketika ia datang terlambat di suatu konferensi IT, ia bahkan tak segan-segan duduk di lantai dengan celana pendek dan sepatu-sandal kesukaannya. Ia bahkan tidak marah tatkala memberikan pidato di mimbar dan diinterupsi oleh beberapa programmer BSD yang maju ke depan panggung yang mengklaim bahwa kernel BSD jauh lebih hebat ketimbang kernel Linux. Ia bahkan tidak segan-segan memakai T-Shirt BSD yang disodorkan pemrotes dan melanjutkan pidatonya.
Menurut Linus, apa yang dilakukannya hanyalah untuk berbagi. Berbeda dengan Richard M Stallman yang fanatik dengan konsep free software, Linus hanya menekankan sisi keterbukaan (open), tak peduli apakah kemudian dalam suatu sistem operasi bercampur program free dan proprietery.
Setiap kata-kata Linus hampir menjadi sabda di kalangan Linuxer yang menciptakan standar nilai tertentu. Setiap publikasi, pidato, email dab press releasenya selalu ditunggu-tunggu jutaan orang. Di sela kesibukannya, Linus menyempatkan diri bersepeda menuruni bukit dan minum di bar desa.


Biografi Kevin Mitnick

Kevin David Mitnick (lahir 6 Agustus 1963; umur 48 tahun) adalah seorang konsultan dan pembuat keamanan komputer. Dia adalah salah satu hacker komputer yang paling kontroversial di akhir abad ke-20, yang merupakan kriminal komputer yang paling dicari di Amerika.[1]

Penangkapan Dan Penahanan

Setelah pengejarannya dipublikasi, FBI menangkap Kevin Mitnick pada bulan Januari 1995 di apartemennya di kota Raleigh, North Carolina atas tuduhan penyerangan terhadap pemerintahan.[

Sumber: Wikipedia

Kisah hidup Bill Gates

Bill Gates
Bill Gates di Forum Ekonomi Dunia Davos, 2007


William Henry "Bill" Gates III (lahir 28 Oktober 1955)[4] adalah seorang tokoh bisnis, investor, filantropis, penulis asal Amerika Serikat, serta mantan CEO yang saat ini menjabat sebagai ketua Microsoft, perusahaan perangkat lunak yang ia dirikan bersama Paul Allen. Ia menduduki peringkat tetap di antara orang-orang terkaya di dunia[5] dan menempati peringkat pertama sejak 1995 hingga 2009, tidak termasuk 2008 ketika ia turun ke peringkat tiga.[6] Selama karirnya di Microsoft, Gates pernah menjabat sebagai CEO dan kepala arsitek perangkat lunak, dan masih menjadi pemegang saham perorangan terbesar dengan lebih dari 8 persen saham umum perusahaan.[7] Ia juga telah menulis beberapa buku.
Gates termasuk salah seorang pengusaha revolusi komputer pribadi terkenal di dunia. Meski ia dikagumi banyak orang, beberapa orang dalam industrinya[siapa?] mengkritik taktik bisnisnya yang dianggap anti-kompetitif, suatu opini yang didukung oleh pengadilan dalam beberapa kasus.[8][9] Pada tahap-tahap akhir karirnya, Gates melakukan beberapa usaha filantropi dengan menyumbangkan sejumlah besar dana ke berbagai organisasi amal dan program penelitian ilmiah melalui Bill & Melinda Gates Foundation yang didirikan tahun 2000.
Gates mengundurkan diri sebagai pejabat eksekutif tertinggi Microsoft pada bulan Januari 2000. Ia masih menjabat sebagai ketua dan membentuk jabatan kepala arsitek perangkat lunak. Pada Juni 2006, Gates mengumumkan bahwa ia akan bekerja paruh waktu di Microsoft dan purna waktu di Bill & Melinda Gates Foundation. Ia secara bertahap melimpahkan semua pekerjaannya kepada Ray Ozzie, kepala arsitek perangkat lunak, dan Craig Mundie, pejabat riset dan strategi tertinggi Microsoft. Hari kerja purna waktu terakhir Gates di Microsoft adalah 27 Juni 2008. Ia masih bekerja di Microsoft sebagai ketua non-eksekutif.


Kehidupan awal

Gates lahir di Seattle, Washington, dari pasangan William H. Gates, Sr. dan Mary Maxwell Gates yang merupakan keturunan bangsa Inggris, Jerman, dan Skot-Irlandia.[10][11] Keluarganya termasuk masyarakat menengah ke atas; ayahnya adalah pengacara ternama, ibunya menjabat sebagai anggota dewan direktur First Interstate BancSystem dan United Way, dan ayahnya, J. W. Maxwell, adalah presiden bank nasional. Gates memiliki seorang kakak bernama Kristi (Kristianne) dan seorang adik bernama Libby. Ia merupakan keturunan keempat dalam keluarganya, namun dikenal sebagai William Gates III atau "Trey" karena ayahnya menyandang akhiran "II".[12] Pada awal kehidupannya, orang tua Gates mengharapkan ia berkarir di bidang hukum.[13] Ketika Gates masih muda, keluarganya sering menghadiri gereja Kongregasi.[14][15][16]
Pada usia 13 tahun, ia bersekolah di Lakeside School, sebuah sekolah persiapan eksklusif di Seattle.[17] Ketika ia kelas delapan, Mothers Club di sekolah memanfaatkan izin dari obral barang lama Lakeside School untuk membeli sebuah terminal Teletype Model 33 ASR dan sebagian waktu komputer menggunakan komputer General Electric (GE) untuk siswa sekolah.[18] Gates tertarik memprogram sistem GE menggunakan BASIC, dan keluar dari kelas matematikanya untuk mengejar keinginannya. Ia menulis program komputer pertamanya di mesin ini, sebuah penerapan tic-tac-toe yang memungkinkan pengguna bermain komputer melawan komputer. Gates terpesona dengan mesin ini dan cara mesin mengeksekusi kode perangkat lunak dengan sempurna. Ketika ia mengenang kembali masa-masa itu, ia mengatakan, "Ada sesuatu yang pas dengan mesin tersebut."[19] Setelah sumbangan Mothers Club habis, ia dan siswa lain menghabiskan waktu dengan mengerjakan beberapa sistem, termasuk minikomputer DEC PDP. Salah satu sistem tersebut adalah PDP-10 yang dimiliki oleh Computer Center Corporation (CCC), yang melarang empat siswa Lakeside—Gates, Paul Allen, Ric Weiland, dan Kent Evans—selama musim panas setelah mereka tertangkap mengeksploitasi bug di sistem operasi untuk memperoleh waktu komputer bebas.[20]
Menjelang akhir masa larangan, keempat siswa ditawarkan untuk menemukan bug di perangkat lunak CCC dengan imbalan waktu komputer. Bukannya memakai sistem via Teletype, Gates pergi ke kantor CCC dan mempelajari kode sumber berbagai program yang berjalan di sistem tersebut, termasuk program dalam bahasa FORTRAN, LISP, dan bahasa mesin. Perjanjian dengan CCC ini berlanjut hingga 1970, ketika perusahaan ini bangkrut. Pada tahun berikutnya, Information Sciences, Inc. mempekerjakan empat siswa Lakeside tersebut untuk menulis program pembayaran gaji dalam bahasa COBOL dan memberi mereka waktu komputer dan royalti. Setelah pengurusnya sadar akan kemampuan pemrogramannya, Gates menulis program komputer sekolah untuk membuat jadwal kelas siswa. Ia memodifikasi kode sehingga ia ditempatkan di kelas-kelas yang didominasi perempuan. Ia kemudian menyatakan bahwa "sulit sekali menarik diri dari mesin yang mampu aku gunakan untuk mendemonstrasikan kesuksesan secara jelas."[19] Pada usia 17 tahun, Gates dan Allen membentuk suatu usaha bersama bernama Traf-O-Data, untuk menciptakan penghitung lalu lintas berbasis prosesor Intel 8008.[21] Pada awal 1973, Bill Gates bekerja sebagai pembantu kongres di Dewan Perwakilan Rakyat AS.[22]
Gates lulus dari Lakeside School pada tahun 1973. Ia memperoleh nilai 1590 dari total 1600 pada ujian SAT[23] dan berkuliah di Harvard College pada musim gugur 1973.[24] Di Harvard, ia bertemu dengan Steve Ballmer, yang kelak menggantikan Gates sebagai CEO Microsoft.
Pada tahun keduanya, Gates merancang sebuah algoritma untuk penyortiran panekuk sebagai solusi atas satu dari serangkaian masalah yang belum terpecahkan[25] dalam kelas kombinatorika oleh Harry Lewis, salah seorang profesornya. Solusi Gates memegang rekor sebagai versi tercepat selama 30 tahun;[25][26] penggantinya justru lebih cepat satu persen saja.[25] Solusinya kemudian diresmikan dalam bentuk cetakan bekerjasama dengan ilmuwan komputer Harvard, Christos Papadimitriou.[27]
Gates tidak punya rencana belajar tetap ketika menjadi mahasiswa di Harvard[28] dan menghabiskan banyak waktunya dengan menggunakan komputer sekolah. Gates masih berkomunikasi dengan Paul Allen, dan ia bergabung dengannya di Honeywell pada musim panas 1974.[29] Pada tahun berikutnya, MITS Altair 8800 berbasis CPU Intel 8080 diluncurkan, dan Gates dan Allen melihat peluncurannya sebagai kesempatan untuk mendirikan perusahaan perangkat lunak komputer sendiri.[30] Ia telah membicarakan keputusan ini bersama orang tuanya yang sangat mendukungnya setelah mereka melihat antusiasme Gates untuk mendirikan perusahaan.


Microsoft

BASIC

MITS Altair 8800 Computer dengan sistem cakram flopi 8-inci (200 mm)
Setelah membaca Popular Electronics edisi Januari 1975 yang mendemonstrasikan Altair 8800, Gates menghubungi Micro Instrumentation and Telemetry Systems (MITS), pencipta mikrokomputer baru tersebut, untuk memberitahu mereka bahwa ia dan teman-temannya sedang mengerjakan penerjemah BASIC untuk digunakan sebagai platformnya.[31] Kenyataannya, Gates dan Allen tidak memiliki komputer Altair dan belum menulis sebarispun kode BASIC; mereka hanya ingin membuat MITS tertarik. Presiden MITS Ed Roberts setuju menemui mereka untuk melihat demonya, dan dalam kurun beberapa minggu mereka mengembangkan emulator Altair yang beroperasi di sebuah minikomputer, dan kemudian penerjemah BASIC. Demonstrasi yang diadakan di kantor MITS di Albuquerque tersebut berhasil dan menghasilkan kesepakatan dengan MITS untuk mendistribusikan penerjemah ini dengan nama Altair BASIC. Paul Allen dipekerjakan di MITS,[32] dan Gates absen dari Harvard untuk bekerja bersama Allen di MITS di Albuquerque pada November 1975. Mereka menamai kemitraan mereka "Micro-Soft" dan mendirikan kantor pertamanya di Albuquerque.[32] Satu tahun berikutnya, tanda penghubung pada namanya dihapus, dan pada 26 November 1976, nama dagang "Microsoft" didaftarkan di Kementerian Luar Negeri New Mexico.[32] Gates tidak pernah kembali ke Harvard untuk menyelesaikan studinya.
BASIC Microsoft dikenal oleh para penggemar komputer, namun Gates kemudian menemukan bahwa salinan pra-pasarnya telah bocor ke masyarakat dan terus disalin dan didistribusikan secara luas. Pada Februari 1976, Gates menulis Open Letter to Hobbyists di surat berita MITS yang menyatakan bahwa MITS tidak boleh terus memproduksi, mendistribusikan, dan mempertahankan perangkat lunak berkualitas tinggi tanpa membayarnya.[33] Surat ini disambut dingin oleh banyak penggemar komputer, namun Gates mempertahankan keyakinannya bahwa para pengembang perangkat lunak harus mampu meminta bayaran. Microsoft terbebas dari MITS pada akhir 1976, dan perusahaan ini terus mengembangkan perangkat lunak bahasa pemrograman untuk berbagai sistem.[32] Perusahaan ini pindah dari Albuquerque ke kanor barunya di Bellevue, Washington pada 1 Januari 1979.[31]
Pada tahun-tahun awal Microsoft, semua karyawan punya tanggung jawab besar atas bisnis perusahaan. Gates mengawasi rincian bisnis dan juga menulis kode. Pada lima tahun pertama, Gates secara pribadi meninjau setiap baris kode yang dikirimkan perusahaan, dan sering menulis ulang beberapa bagian kode agar terlihat pas.[

 

Kemitraan dengan IBM

Pada tahun 1980, IBM membujuk Microsoft untuk menulis penerjemah BASIC untuk komputer pribadi mereka selanjutnya, IBM PC. Ketika perwakilan IBM menyebutkan bahwa mereka butuh sebuah sistem operasi, Gates memberi rujukan kepada Digital Reserach (DRI), pembuat sistem operasi CP/M yang banyak digunakan pada masa itu.[35] Diskusi IBM dengan Digital Research tidak membuahkan hasil, dan mereka tidak mencapai persetujuan lisensi. Perwakilan IBM Jack Sams menyebutkan kesulitan izin lisensi pada pertemuan selanjutnya dengan Gates dan memintanya untuk mencari sebuah sistem operasi yang layak. Beberapa minggu kemudian Gates berencana menggunakan 86-DOS (QDOS), sebuah sistem operasi mirip CP/M yang dibuatkan perangkat lunaknya oleh Tim Paterson dari Seattle Computer Products (SCP) sama seperti PC. Microsoft membuat persetujuan dengan SCP untuk menjadi agen lisensi eksekutif, dan kemudian pemilik mutlak 86-DOS. Setelah mengadaptasi sistem operasi untuk PC, Microsoft mengirimkannya ke IBM dalam bentuk PC-DOS dengan imbalan bayaran $50.000. Gates tidak menawarkan pemindahan hak cipta sistem operasi ini, karena ia yakin produsen perangkat lunak lain akan meniru sistem IBM.[36] Mereka benar, dan penjualan MS-DOS menjadikan Microsoft pemain utama dalam industri komputer.[37]
Gates mengawasi restrukturisasi perusahaan Microsoft pada 25 Juni 1981 yang menggabungkan kembali perusahaan di negara bagian Microsoft dan menjadikan Gates Presiden dan Ketua Dewan Microsoft.


Windows

Microsoft meluncurkan versi ritel pertama Microsoft Windows pada 20 November 1985, dan pada bulan Agustus, perusahaan ini mencapai persetujuan dengan IBM untuk mengembangkan sistem operasi terpisah bernama OS/2. Meski kedua perusahaan ini berhasil mengembangkan versi pertama dari sistem ini, perbedaan kreativitas merusak kerjasama ini. Gates mengeluarkan memo internal pada 16 Mei 1991 yang mengumumkan bahwa kerjasama OS/2 berakhir dan Microsoft mengalihkan operasinya ke pengembangan kernel Windows NT.

Gaya manajemen

Sejak pendirian Microsoft tahun 1975 hingga 2006, Gates mempunyai tanggung jawab besar terhadap strategi produk perusahaan. Ia secara agresif memperluas jajaran produk perusahaan, dan ketika Microsoft berhasil mendominasi pasar ia mempertahankannya sekuat tenaga. Ia mendapat reputasi sebagai orang yang menjauhkan diri dari sekitarnya; pada awal 1981 seorang eksekutif industri mengeluh kepada masyarakat bahwa "Gates terkenal karena tidak bisa dihubungi melalui telepon dan tidak membalas panggilan telepon."[39]
Sebagai seorang eksekutif, Gates secara rutin bertemu dengan manajer senior dan manajer program Microsoft. Beberapa pengakuan langsung dari rapat ini menyebutkan Gates sebagai orang yang menyerang dengan kata-kata, memarahi manajer karena mengetahui ada lubang ada strategi bisnis atau proposal mereka yang menempatkan rencana jangka panjang perusahaan di ujung tanduk.[40][41] Ia sering memotong presentasi dengan komentar seperti, "Itu hal terbodoh yang pernah aku dengar!"[42] dan, "Lebih baik kamu mengembalikan opsimu dan bergabung dengan Korps Perdamaian."[43] Target kemarahannya adalah mempertahankan proposal serinci-rincinya hingga Gates yakin sepenuhnya.[42] Ketika bawahannya terlihat menunda-nunda pekerjaannya, Gates dikenal mengutarakan kata-kata sarkastik, "Biar aku saja yang mengerjakannya akhir minggu nanti."[44][45][46]
Sebagian besar peran Gates di Microsoft hanya menangani manajemen dan tugas eksekutif. Meski begitu, ia adalah pengembang perangkat lunak aktif pada tahun-tahun awalnya, terutama pada produk bahasa pemrograman Microsoft. Ia juga secara tidak resmi menjadi bagian dari tim pengembang sejak mengerjakan TRS-80 Model 100,[47] dan juga menulis kode pada akhir 1989 yang diikutsertakan dalam produk-produk perusahaan.[45] Pada 15 Juni 2006, Gates mengumumkan bahwa ia akan menghentikan pekerjaan hariannya selama dua tahun berikutnya untuk memfokuskan diri pada aktivitas filantropi. Ia membagi tugasnya kepada dua orang penggantinya, yaitu Ray Ozzie pada manajemen harian dan Craig Mundie pada strategi produk jangka panjang.


Litigasi antipercaya

Bill Gates menyampaikan deposisinya di Microsoft pada 27 Agustus 1998
Banyak keputusan yang menjurus pada litigasi antipercaya terhadap praktik bisnis Microsoft disetujui oleh Gates. Pada kasus United States v. Micrsofot tahun 1998, Gates memberikan pengakuan deposisi bahwa beberapa jurnalis selalu menghindar. Ia berdebat dengan penyidik David Boies tentang arti kontekstual dari kata-kata seperti "compete" (bersaing), "concerned" (mengkhawatirkan) dan "we" (kami/kita).[49] BusinessWeek melaporkan:
Putaran pertama deposisi menunjukkan Gates memberikan jawaban tidak jelas dan mengatakan 'Aku tidak ingat,' beberapa kali sampai-sampai hakim tertawa kecil. Buruknya, banyak penolakan dan ketidaktahuan kepala teknologi ini dibantah oleh jaksa dengan menampilkan bagian-bagian surel yang dikirim dan diterima Gates.[50]
Gates kemudian mengatakan bahwa ia perlu melawan upaya-upaya Boies untuk menyalahartikan kata-kata dan tindakannya. Sesuai kelakuannya ketika deposisi, ia mengatakan, "Apakah aku mengelak dari pertanyaan Boies? ... Aku mengaku bersalah. Segala hukuman terhadapku harus ditarik: ketidaksopanan terhadap Boies harus diutamakan."[51] Meski Gates menolak, hakim menyatakan bahwa Microsoft telah melakukan monopolisasi dan pengikatan, dan menghambat persaingan, serta melanggar Sherman Antitrust Act.

Kemunculan di iklan

Gates muncul di beberapa iklan yang mempromosikan Microsoft pada tahun 2008. Iklan pertama, juga dibintangi Jerry Seinfeld, adalah percakapan 90 detik ketika Seinfeld berjalan di depan toko sepatu diskon (Shoe Circus) di sebuah mal dan melihat Gates membeli sepatu di toko tersebut. Si penjual berusaha menjual sepatu yang ukurannya lebih besar satu nomor kepada Gates. Ketika Gates membayarnya, ia memegang kartu diskonnya yang menampilkan versi suntingan foto wajahnya ketika ditangkap di New Mexico pada tahun 1977 akibat pelanggaran lalu lintas.[52] Ketika mereka berdua berjalan keluar mal, Seinfeld bertanya kepada Gates apakah ia telah menyatukan pikirannya dengan para pengembang lain, setelah dijawab ya, ia bertanya lagi apakah mereka bekerjasama untuk membuat komputer yang bisa dimakan, dan Gates menjawab ya. Beberapa orang mengatakan bahwa iklan ini merupakan penghormatan atas acara Seinfeld yang "biasa-biasa saja" (Seinfeld).[53] Pada iklan kedua, Gates dan Seinfeld menginap di rumah sebuah keluarga kelas menengah dan mencoba menyesuaikan diri dengan orang-orang biasa.

Pasca-Microsoft

Sejak meninggalkan Microsoft, Gates melanjutkan aktivitas filantropinya dan, di antara proyek-proyek lain, membeli hak video serial Messenger Lectures berjudul The Character of Physical Law, disampaikan di Cornell University oleh Richard Feynman pada tahun 1964 dan direkam oleh BBC. Video-video tersebut tersedia untuk umum secara daring di Project Tuva Microsoft.[54][55]
Pada April 2010, Gates diundang untuk mengunjungi dan menyampaikan ceramah di Massachusetts Institute of Technology. Ia meminta mahasiswa untuk menangani masalah-masalah besar dunia yang akan mereka alami di masa depan.

Kehidupan pribadi

Bill dan Melinda Gates, Juni 2009
Gates menikahi Melinda French pada 1 Januari 1994. Mereka dikaruniai tiga orang anak: Jennifer Katharine Gates (lahir 1996), Rory John Gates (lahir 1999), dan Phoebe Adele Gates (lahir 2002). Rumah keluarga Gates merupakan sebuah rumah bawah tanah di sisi sebuah bukit yang menghadap Lake Washington di Medina. Menurut catatan publik King County, pada 2006 nilai total properti (tanah dan rumah) keluarga Gates adalah $125 juta, dan pajak properti setiap tahunnya sebesar $991.000.
Rumah seluas 66.000 ft² (6,100 ) ini memiliki kolam renang seluas 60-kaki (18 m) dengan sistem musik bawah air, serta gimnasium seluas 2.500 ft² (230 ) dan ruang makan seluas 1.000 ft² (93 ).[58]
Termasuk di antara akuisisi pribadi Gates adalah Codex Leicester, yaitu koleksi tulisan Leonardo da Vinci, yang dibeli Gates senilai $30,8 juta melalui pelelangan tahun 1994.[59] Gates juga dikenal sebagai seorang kutu buku, dan langit-langit perpustakaan besar di rumahnya dipenuhi ukiran kutipan dari The Great Gatsby.[60] Ia juga senang bermain kartu bridge, tenis, dan golf.[61][62]
Gates pernah menempati peringkat pertama pada daftar Forbes 400 sejak 1993 hingga 2007 dan peringkat satu pada daftar The World's Richest People Forbes sejak 1995 hingga 2007 dan 2009. Pada 1999, kekayaan Gates pernah melewati angka $101 miliar, akibatnya media menyebutnya sebagai "centibillionaire".[63] Sejak 2000, jumlah nominal sahamnya di Microsoft menurun karena jatuhnya harga saham Microsoft setelah pecahnya gelembung dot-com dan sumbangan multi-miliar dolar kepada berbagai yayasan amal. Pada wawancara bulan Mei 2006, Gates berkomentar bahwa ia bukanlah orang terkaya di dunia karena ia tidak suka perhatian yang muncul akibat gelar tersebut.[64] Gates memiliki beberapa investasi di luar Microsoft yang pada 2006 menggajinya sebesar $616.667 serta bonus $350.000 sehingga totalnya mencapai $966.667.[65] Ia mendirikan Corbis, sebuah perusahaan gambar digital, pada tahun 1989. Pada tahun 2004 ia menjadi direktur Berkshire Hathaway, perusahaan investasi yang diketuai oleh sahabat lamanya, Warren Buffett.[66] Pada Maret 2010, Bill Gates menempati peringkat kedua sebagai orang terkaya di dunia setelah dikalahkan Carlos Slim.



Filantropi

Gates (kedua dari kanan) bersama Bono, Ratu Rania dari Yordania, mantan Perdana Menteri Britania Raya Gordon Brown, Presiden Umaru Yar'Adua dari Nigeria dan peserta lain dalam 'Call to Action on the Millennium Development Goals' pada Pertemuan Tahunan Forum Ekonomi Dunia 208 di Davos, Swiss
Gates mulai menghargai harapan masyarakat terhadapnya ketika opini publik terus menyatakan bahwa Gates mampu menyumbangkan sebagian kekayaannya untuk amal. Gates mempelajari karya Andrew Carnegie dan John D. Rockefeller, dan pada 1994 ia menjual sebagian sahamnya di Microsoft untuk mendirikan William H. Gates Foundation. Pada tahun 2000, Gates dan istrinya menggabungkan tiga yayasan keluarga menjadi satu dan membentuk yayasan amal Bill & Melinda Gates Foundation, yang saat ini merupakan yayasan amal yang beroperasi secara transparan terbesar di dunia.[67] Yayasan ini mengizinkan para donatur mengakses informasi tentang bagaimana uang yayasan dikeluarkan, tidak seperti organisasi amal besar lainnya seperti Wellcome Trust.[68][69] Kedermawanan dan filantropi luas David Rockefeller telah diakui sebagai pengaruh besar yayasan ini. Gates dan ayahnya bertemu dengan Rockefeller beberapa kali dan mencontoh sebagian cara penyalurannya pada fokus filantropi keluarga Rockefeller, terutama masalah-masalah global yang diabaikan oleh pemerintahan dan organisasi lain.[70] Pada tahun 2007, Bill dan Melinda Gates merupakan filantropis paling dermawan kedua di Amerka Serikat, dengan sumbangan untuk amal sebanyak $28 miliar.[71]
Pada saat yang sama yayasan ini dikritik karena menginvestasikan aset yang belum didistribusikan dengan tujuan eksklusif memaksimalkan pulangan investasi. Akibatnya, investasi mereka meliputi perusahaan-perusahaan yang dituduh memperburuk kemiskinan di negara-negara berkembang yang justru keberadaannya berusaha dikurangi oleh yayasan ini. Investasi mereka meliputi perusahaan-perusahaan yang banyak menghasilkan polusi, dan perusahaan farmasi yang tidak menjual produk-produknya ke negara berkembang.[72] Sebagai tanggapan atas kritik pers, pada 2007 yayasan ini mengumumkan peninjauan atas semua investasinya untuk menilai tanggung jawab sosialnya.[73] Yayasan ini kemudian membatalkan peninjauan dan mempertahankan kebijakan investasi untuk pulangan maksimal, dan menggunakan hak suara untuk mempengaruhi praktik perusahaan.[74]
Istri Gates mengajak masyarakat untuk belajar dari usaha-usaha filantropi keluarga Salwen, yang menjual rumahnya dan menyumbangkan setengah nilainya, sebagaimana disebutkan dalam buku The Power of Half.[75] Gates dan istrinya mengundang Joan Salwen ke Seattle untuk membicarakan tentang hal-hal yang dilakukan oleh keluarga tersebut, dan pada 9 Desember 2010, Gates, investor Warren Buffett, dan Mark Zuckerberg (CEO Facebook) menandatangani janji yang mereka sebut "Gates-Buffet Giving Pledge". Isinya adalah mereka berjanji untuk menyumbangkan setengah kekayaan mereka untuk amal secara bertahap.



Penghargaan

Pada tahun 1987, Gates secara resmi dinyatakan sebagai seorang miliarder dalam halaman 400 Richest People in America majalah Forbes, beberapa hari sebelum ulang tahunnya yang ke-32. Sebagai miliarder usaha sendiri termuda di dunia, kekayaannya mencapai $1,25 miliar, $900 juta lebih banyak daripada tahun sebelumnya, ketika ia masuk pertama kalinya dalam daftar ini.[79]
Majalah Time menamai Gates sebagai satu dari 100 orang paling berpengaruh pada abad ke-20, serta satu dari 100 orang paling berpengaruh tahun 2004, 2005, dan 2006. Time juga secara kolektif menamai Gates, istrinya Melinda dan penyanyi utama U2 Bono sebagai Persons of the Year 2005 atas upaya kemanusiaan mereka.[80] Pada tahun 2006, ia menempati peringkat kedelapan dalam daftar "Heroes of our time".[81] Gates masuk dalam daftar orang terkuat Sunday Times tahun 1999, dijuluki CEO tahun ini oleh majalah Chief Executive Officers tahun 1994, menempati peringkat pertama dalam daftar "Top 50 Cyber Elite" oleh Time tahun 1998, peringkat kedua di Upside Elite 100 tahun 1999 dan disebutkan oleh The Guardian dalam daftar "Top 100 influential people in media" tahun 2001.[82]
Pada tahun 1994, ia mendapat penghormatan sebagai Distinguished Fellow ke-20 di British Computer Society. Gates telah menerima gelar doktorat penghormatan dari Nyenrode Business Universiteit, Breukelen, Belanda, pada tahunn 2000;[83] Royal Institute of Technology, Stockholm, Swedia pada tahun 2002; diundang pada tahun 2003 untuk menyampaikan ceramah intisari [84] di hadapan Golden Jubilee of the Indian Institute of Technology yang diadakan di San Jose, California [85]; Waseda University, Tokyo, Jepang pada tahunn 2005; Tsinghua University, Beijing, Cina, pada bulan April 2007;[86] Harvard University pada bulan Juni 2007;[87] Karolinska Institutet, Stockholm, pada bulan Januari 2008,[88] dan Cambridge University pada bulan Juni 2009.[89] Ia juga dijadikan sebagai anggota kehormatan Peking University pada tahun 2007.[90] Gates juga diberikan gelar kehormatan Knight Commander of the Order of the British Empire (KBE) oleh Ratu Elizabeth II pada tahun 2005.[91] Para entomolog juga memberi nama bunga kembang Bill Gates, Eristalis gatesi, sebagai tanda penghormatan.[92]
Pada November 2006, ia dan istrinya diberi penghargaan Order of the Aztec Eagle atas aktivitas filantropi mereka di seluruh dunia dalam bidang kesehatan dan pendidikan, terutama di Meksiko, dan tepatnya pada program "Un país de lectores".[93] Pada Oktober 2009, diumumkan bahwa Gates diberi penghargaan 2010 Bower Award for Business Leadership dari The Franklin Institute atas pencapaiannya dalam bisnis dan aktivitas filantropinya. Pada tahun 2010, ia memperoleh Silver Buffalo Award dari Boy Scouts of America, penghargaan tertinggi untuk orang dewasa, atas jasanya kepada para pemuda.

Investasi

  • Cascade Investments LLC, perusahaan investasi dan holding swasta Amerika Serikat yang diawasi oleh Bill Gates dan berkantor pusat di kota Kirkland, Washington.
  • bgC3, perusahaan wadah pemikir baru yang didirikan oleh Bill Gates.
  • Corbis, perusahaan jasa pemberi lisensi dan hak cipta gambar digital.
  • TerraPower, perusahaan desain reaktor nuklir.

Terbitan

Gates telah menulis dua buku:

Filmografi

Gates pernah muncul di satu film:
Gates juga muncul di sebuah film tentang sejarah industri komputer pribadi:

Lihat pula

Buku